Tak Hanya Hasilkan Susu

Tidak membuang kotoran sapi! Itu yang dilakukan para peternak sapi perah di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Mereka memanfaatkan kotoran sapi untuk menghasilkan energi. Dari telekong—nama lain kotoran sapi—para peternak mampu mengubahnya menjadi biogas yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari, misalnya untuk bahan bakar genset, lampu penerangan, memasak, serta water heater (pemanas air) yang sangat dibutuhkan bagi warga. 

Mulutmu Harimaumu

Never complain in public. You don't know what will happen next. 

Weekend lalu aku janjian dengan BFF aka Reza buat nonton. Entah film apapun di bioskop manapun. Awalnya kami mau nonton di Summarecon Bekasi. Namun kami berubah pikiran dan nonton di Grand Mall Bekasi. Sampai sana, antriannya penuh! Ada 10 pilihan film yang bisa kami tonton, 7 film luar dan sisanya film Indonesia. Galaulah kami berdua menentukan mau nonton yang mana: Keanu Reeves di Daughter of God; Leo di Caprio di Revenant; atau Chris Pine di Finest Hours. Namun setelah 45 menit mengantri, akhirnya pilihan jatuh ke Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) Haha. Hidup perfilman Indonesia! 

Megahnya Istana Kita

Kita tidak bisa membangun istana di atas pondasi rumah sederhana. Tidak bisa. Kalaupun kita tetap memaksa menggunakan pondasi rumah, maka kita tidak akan menghasilkan istana yang megah. Istana itu akan mudah roboh dan tidak bertahan lama. Sedikit saja guncangan akan sanggup merobohkan tiang-tiang. Tentu bukan istana seperti itu yang kita mau.

Skarifikasi Hati

Dalam dunia perbenihan, ada istilah skarifikasi. Menurut catatan kuliah saya, skarifikasi berarti proses pelukaan kulit biji. Pelukaan itu disengaja, entah dengan menorehkan sayatan atau mematahkan ujung biji. Tujuannya untuk memecah dormansi sehingga biji bisa berkecambah. Skarifikasi biasanya dilakukan pada biji yang berkulit keras, seperti pala, albasia, dan lamtoro. Setelah beberapa waktu, daya berkecambah benih yang terskarifikasi akan lebih baik dibanding yang tidak. 

Catatan Akhir Tahun Sang Pejalan

Disclaimer: tulisan ini murni untuk pengingat pribadi gue di masa depan. Facebook remembers memories way much better than my brain. No offense to anyone. But if you feel offense, I am sorry. Gue ga bermaksud begitu. 

Dua ribu lima belas hampir berakhir. Tahun ini resolusi yang bertajuk "Live my life to the fullest without regrets" berhasil membuat gue memaknai banyak hal: petualangan, kesempatan, keberanian, kebahagiaan, penghargaan, kesepian, dan kehilangan. Beberapa hal gue lakukan dengan suka cita. Beberapa momen harus gue terima dengan lapang dada. Part paling seru tentu saja petualangan. Alhamdulillah tahun ini bolak-balik ke Pulau Sumatera. Mulai dari Medan, Riau, Jambi, sampai Aceh. Sedangkan ke timur, Pulau Sumba jadi saksi bahwa kadang yang kita butuhkan hanya mimpi, dan biarkan Tuhan yang mewujudkan. Semoga tahun depan gue masih bisa berjalan; tidak sendirian tapi bergandengan tangan. Amiinnn... 

Retak

Jihyo menatap gusar sahabatnya. Berita yang ia bawa sungguh tak bisa Jihyo percaya.

"Kau bilang apa? Sungmin sudah menikah?"

Nasehat Bapak

Jalan tol di hadapanku benar-benar lenggang hingga aku tergoda untuk menginjak gas lebih dalam. Sedikit, tapi cukup membuat jarum speedometer menunjuk angka 100 km/jam.