Siang tadi sepulang membeli sesuatu untuk seseorang, saya berjumpa dengan seorang kakek di angkot. Bukan karena ia renta dan masih harus bekerja dengan mengamen yang membuat saya iba. Bukan itu, melainkan karena kakek ini kehilangan tangan kanannya. Ya, dia cacat. Penumpang angkot yang penuh hanya memandang kasihan, sedangkan si kakek selalu menoleh lantaran malu dikasihani.
Lalu satu per satu penumpang turun, menyisakan saya dan kakek itu. Dan perang batin mulai terjadi di kepala saya.
"Ayo Tika, kasih uang ke kakek itu. Sedekah."
"Ngapain? Paling itu modus pengamen. Anak-anaknya kemana? Koq tega bapaknya disuruh kerja."
"Ya udah, seenggaknya bayarin ongkosnya. Ga nyampe Rp5.000."
"Ya elah, ngasih pengamen seribu juga cukup kali."